
Seorang petani di desa Mlagen Kec. Pamotan memeriksa tanaman ketelanya yang rusak.
Pamotan – Serangan babi hutan atau biasa disebut celeng, mengakibatkan para petani di desa Mlagen Kec. Pamotan kewalahan. Babi hutan belakangan ini kerap merusak tanaman jagung, ketela dan kacang tanah. Mereka pada siang hari bersembunyi di dalam lahan perkebunan tebu, baru saat malam harinya kawanan babi liar langsung mencari sasaran makanan.
Jamari, salah satu warga Karanganyar Mlagen Kec. Pamotan memperkirakan babi hutan masuk perkampungan, setelah kawasan hutan gundul dan tidak ada pasokan makanan.
Untuk bertahan hidup, babi cenderung memilih lokasi yang berdekatan dengan aliran sungai. Bahkan sekarang ini populasinya bertambah banyak.
Ia mencontohkan jagung dan ketela, selalu saja lebih cepat habis dirusak babi, sebelum memasuki masa panen. Petani sudah berusaha melakukan cara cara tradisional, seperti memasang lampu maupun memberikan wangi wangian dekat persawahan yang dipercaya bisa mengusir babi. Namun kenyataannya sama sekali tidak mempan.
Jamari menambahkan pada Minggu sore kebetulan datang rombongan pemburu dari Wedarijaksa Pati. Mereka selanjutnya memasang jaring untuk mengitari lahan tebu, kemudian dilepaskan belasan anjing. Tak berapa lama, ada tiga ekor babi akhirnya tertangkap.
Salah satu tokoh warga desa Mlagen ini menyayangkan kenapa pihak pihak terkait dari pemerintah setempat, tidak mau turun ke bawah ikut memberantas babi hutan, tetapi justru orang luar daerah yang peduli.
Sementara itu pengurus Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) sekaligus anggota Kodim Rembang Serma Surahmin mengaku siap datang melakukan penyisiran ke lokasi yang rawan serangan babi hutan.
Ia perlu berkoordinasi dengan sesama anggota Perbakin lainnya, karena upaya perburuan membutuhkan banyak orang dan keahlian khusus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar